Diproteksi: Kemukjizatan Alquran

Oktober 16, 2008

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah

Oktober 16, 2008

tafsir, Ta’wil dan Tarjamah

Oleh: Drs. Masran, M. Ag.

A. Pengertian Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah

Secara bahasa kata Tafsir ( تفســير ) berasal dari kata فَسَّرَ yang mengandung arti: menjelaskan, menyingkap dan menampak-kan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata الفســر berarti menyingkapkan sesuatu yang tertutup [Al-Qaththan, 1992: 450 – 451].

Menurut istilah, Tafsir berarti Ilmu untuk mengetahui kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammas Saw. dan penjelasan maknanya serta pengambilan hukum dan makna-maknanya [Az-Zarkasyi, 1972: I, 13]. Definisi lain tentang pengertian Tafsir dikemukakan oleh As-Shabuni [1985: 66], bahwa Tafsir adalah Ilmu yang membahas tentang Al-Quranul-Kariem dari segi pengertiannya terhadap maksud Allah sesuai dengan kemampuan manusia.

Sedangkan pengertian Ta’wil, menurut sebagian ulama, sama dengan Tafsir. Namun ulama yang lain membedakannya, bahwa ta’wil adalah mengalihkan makna sebuah lafazh ayat ke makna lain yang lebih sesuai karena alasan yang dapat diterima oleh akal [As-Suyuthi, 1979: I, 173]. Sehubungan dengan itu, Asy-Syathibi [t.t.: 100] mengharuskan adanya dua syarat untuk melakukan penta’wilan, yaitu: (1) Makna yang dipilih sesuai dengan hakekat kebenaran yang diakui oleh para ahli dalam bidangnya [tidak bertentangan dengan syara’/akal sehat], (2) Makna yang dipilih sudah dikenal di kalangan masyarakat Arab klasik pada saat turunnya Alquran].

Dari pengertian kedua istilah ini dapat disimpulkan, bahwa Tafsir adalah penjelasan terhadap makna lahiriah dari ayat Alquran yang penegrtiannya secara tegas menyatakan maksud yang dikehendaki oleh Allah; sedangkan ta’wil adalah pengertian yang tersirat yang diistimbathkan dari ayat Alquran berdasarkan alasan-alasan tertentu.         

Sedangkan Tarjamah, secara bahasa berati memindahkan lafal dari suatu bahasa ke bahasa lain. Dalam hal ini, memindahkan lafal ayat-ayat Alquran yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Dalam pelaksanaannya, tarjamah terbagi kepada tiga bentuk:

1.  Tarjamah Harfiah/Lafzhiah: yaitu memindahkan lafal dari suatu bahasa ke bahasa lain dengan cara memindah bahasakan kata-demi kata, serta tetap mengikuti susunan (uslub) bahasa yang diterjemahkan .

2.  Tarjamah Ma’nawiah/Tafsiriah: Sebagian ulama ada yang membedakan antara tarjamah ma’nawiah dengan tarjamah tafsiriah, sedangkan sebagian lainnya menganggap keduanya adalah sama. 

B. Macam-macam tafsir berdasarkan sumbernya

Berdasarkan sumber penafsirannya, tafsir terbagi kepada dua bagian: Tafsir Bil-Ma’tsur dan Tafsir Bir-Ra’yi. Namun sebagian ulama ada yang menyebutkannya tiga bagian.

1.    Tafsir Bilma’tsur adalah tafsir yang menggunakan Alquran dan/atau As-Sunnah sebagai sumber penafsirannya.

2.    Tafsir Bir-Ra’yi adalah Tafsir yang menggunakan rasio/akal sebagai sumber penafsirannya.

3.    Tafsir Bil Isyarah, Penafsiran Alquran dengan firasat atau kemampuan intuitif yang biasanya dimiliki oleh tokoh-tokoh shufi, sehingga tafsir jenis ini sering juga disebut sebagai tafsir shufi.

ad.1. Contoh Kitab-kitab Tafsir Bil-Ma’tsur antara lain:

a.  Tafsir Al-Qur’anu al-‘Azhim (القرآن العظيم),  karangan Abu al-Fida’ Ismail bin Katsir al-Qarsyi al-Dimasyqy, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir (w. 774H.)

b.  Tafsir Jami’ al-Bayan Fi Tafsir al-Qur’an(جامع البيان), karangan Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabary, dikenal dengan sebutan Ibnu Jarir At-Thabary (225 H. – 310 H.)

c.  Tafsir Ma’alim al-Tanzi,  (معالم التنزيل), dikenal dengan sebutan al-Tafsir al-Manqul,  karangan al-imam al-Hafizh al-Syahir Muhyi al-Sunnah Abu Muhammad bin Husein bin Mas’ud bin Muhammad bin al-Farra’ al-Baghawy al-Syafi’iy, dikenal dengan sebutan Imam al-Baghawy (w. 462 H.)

d.  Tafsir Tanwir al-Miqyas Min Tafsir Ibn ‘Abbas(التنوير المقياس من تفسير ابن عباس), karangan Majd al-din Abu al-ThahirMuhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar al-Syairazi al-Fairuzabadi, dikenal dengan sebutan al-fairūzâbâdi (Lahir tahun 729 H.)

e.  Tafsir al-Bahr  (البحر), karangan al-‘Allamah Abu al-Layts al-Samarqandy    

ad.2.  Contoh kitab-kitab Tafsir Bil-Ra’yi:

     a. 

C. Macam-macam Tafsir berdasarkan corak penafsirannya        

Corak penafsiran yang dimaksud dalam hal ini adalah bidang keilmuan yang mewarnai suatu kitab tafsir. Hal ini terjadi karena mufassir memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda-beda, sehingga tafsir yang dihasilkannya pun memiliki corak sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasainya.

Berdasarkan corakm penafsirannya, kitab-kitab tafsir terbagi kepada beberapa macam. Di antara sebagai berikut:

1.  Tafsir Shufi/Isyari, corak penafsiran Ilmu Tashawwuf yang dari segi sumbernya termasuk tafsir Isyariy. Nama-nama kitab tafsir yang termasuk corak shufi ini antara lain:

a.  Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Sahl bin Abdillah al-Tustari. Dikenal dengan Tafsir al-Tustasry.

b.  Haqaiq al-Tafsir, Abu Abdirrahman al-Silmy, terkenal dengan sebutan Tafsir al-Silmy.

c.  Al-Kasf Wa al-Bayan, karya Ahmad bin Ibrahim al-Naisabury, terkenal dengan nama Tafsir al-Naisabury.

d.  Tafsir Ibnu Araby, karya Muhyiddin Ibnu Araby, terkenal dengan nama Tafsir Ibnu ‘Araby.

e.  Ruh al-Ma’ani, karya Syihabuddin Muhammad al-Alusy, terkenal dengan nama  tafsir al-Alusiy. [Ash-Shabuni, 1985: 2001]

 

2.  Tafsir Fiqhy, corak penafsiran yang lebih banyak menyoroti masalah-masalah fiqih. Dari segi sumber penafsirannya, tafsir bercorak fiqhi ini termasuk tafsir bilma’tsur. Kitab-kitab tafsir yang termasuk corak ini antara lain:

a.  Ahkam al-Qur’an, karya al-Jashshash, yaitu Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Razi, dikenal dengan nama Tafsir al-Jashshash. Tafsir ini merupakan tafsir yang penting dalam fiqh madzhab Hanafi.

b.  Ahkam al-Qur’an, karya Ibnu ‘Araby, yaitu Abu Bkar Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Mu’afiri al-Andalusiy al-Isybily. Kitab tafsir ini menjadi rujukan penting dalam Ilmu fiqh bagi pengikut madzhab Maliki.

c.  Al-Jami’ Li ahkam al-Qur’an, karya Imam al-Qurthuby, yaitu Abdu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Anshary al-Khazrajy al-Andalusy. Kitab ini dikenal dengan nama kitab Tafsir al-Qurthuby, yang pendapat-pendapatnya tentang fiqh cendrung pada pemikiran madzhab Maliki.

d.  Al-Tafsirah al-Ahmadiyyah Fi Bayan al-Ayat al-Sayari’ah, karya Mula Geon

e.  Tafsir Ayat al-Ahkam, karya Muhammad al-Sayis,

f.   Tafsir Ayat al-Ahkam, karya Manna’ al-Qaththan

g.  Tafsir Adhwa’ al-Bayan, karya Syeikh Muhammad al-Syinqitiy. [Manna’ al-Qaththan, 1992: 511 – 515]

 

3.  Tafsir Falsafi, yaitu tafsir yang dalam penjelasannya menggunakan pendekatan filsafat, termasuk dalam hal ini adalah tafsir yang bercorak kajian Ilmu Kalam. Dari segi sumber penafsirannya tafsir bercorak falsafi ini termasuk tafsir bir-Ra’yi. Kitab-kitab tafsir yang termasuk dalam kategori ini adalah:

a.  Mafatih al-Ghaib, karya Imam Fkhruddin al-Razi yang lebih dikenal dengan nama tafsir al-Razi. Tafsir ini bercorak kalam aliran Ahlus-Sunnah.

b.  Tanzih al-Qur’an ‘An al-Matha’in, karya al-Qadhi Abdul Jabbar. Tafsir ini bercorak kalam aliran Mu’tazilah. Dilihat dari segi metode yang digunakannya, tafsir ini termasuk tafsir Ijmaliy. Sedangkan dari segi sumber penafsirannya ia lebih banyak menggunakan akal, karena itu termasuk Tafsir Bir-Ra’yi.

c.  Al-Kasysyaf ‘An Haqaiq al-Tanzil Wa ‘Uyun al-Aqawil Fi Wujuh al-Ta’wil, karya al-Zamakhsyary. Kitab ini dikenal dengan nama Tafsir al-Kasysyaf. Corak penafsirannya adalah kalam aliran Mu’tazilah

d.  Mir’at al-Anwar Wa Misykat al-Asrar, dikenal dengan Tafsir al-Misykat, karya Abdul Lathif al-Kazarani. Tafsir ini bercorak kalam aliran Syi’ah

e.  At-Tibyan al-Jami’ Li Kulli ‘Ulum al-Qur’an, karya Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan bin ‘Ali al-Thusi. Tafsir ini bercorak kalam aliran Syi’ah Itsna ‘Asyariyah.

4.  Tafsir Ilmiy, yaitu tafsir yang lebih menekankan pembahasannya dengan pendekatan ilmu-ilmu pengetahuan umum.  Dari segi sumber penafsirannya tafsir bercorak ‘Ilmiy ini juga termasuk tafsir bir-Ra’yi. Salah satu contoh kitab tafsir yang bercorak ‘ilmiy adalah kitab Tafsir al-Jawahir, karya Thanthawi Jauhari.

5.  Tafsir al-Adab al-Ijtima’i, yaitu tafsir yang menekankan pembahasannya pada masalah-masalah sosial kemasyara-katan. Dari segi sumber penafsirannya tafsir bercorak al-Adab al-Ijtima’ ini termasuk tafsir bir-Ra’yi. Namun ada juga sebagian ulama yang mengkategorikannya sebagai tafsir Bil-Izdiwaj (tafsir campuran), karena prosentase atsar dan akal sebagai sumber penafsiran dilihatnya seimbang.

          Salah satu contoh tafsir yang bercorak demikian ini adalah Tafsir Al-Manar, buah pikiran Syeikh Muhammad Abduh yang dibukukan oleh Muhammad Rasyid Ridha.

6.  dll.

 

D. Macam-macam Tafsir berdasarkan metodenya

Para ulama ahli Ulum al-Qur’an telah membuat klasifikasi tafsir berdasarkan metode penafsirannya menjadi empat macam metode. Yaitu: (1) Metode Tahlily, (2) Metode Ijmaliy, (3) Metode Muqaran, dan (4) Metode Maudhu’i. Keempat metode ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.  Metode Tahlily (metode Analisis)

Yaitu metode penafsiran ayat-ayat Alquran secara analitis dengan memaparkan segala aspek yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkannya sesuai dengan bidang keahlian mufassir tersebut. Uraiannya, antara lain menyangkut pengertian kosa kata (makna mufradat), keserasian redaksi dan keindahan bahasanya (fashahah dan balaghah), keterkaitan makna ayat yang sedang ditafsirkan dengan ayuat sebelum maupun sesudahnya (munasabah al-ayat) dan  sebab-sebab turunnya ayat (asbab al-nuzul). Demikian pula penafsiran dengan metode ini melihat keterkaitan makna ayat yang ditafsirkannya dengan penjelasan yang pernah diberikan oleh Nabi, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama sebelumnya yang telah lebih dahulu memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut.  Karena itu, kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode ini pada umumnya memerlukan volume kitab yang sangat besar, berjilid-jilid sampai 30 jilid banyaknya.

Penafsiran dengan metode ini dilakukan secara berurutan dan berkesinambungan terhadap ayat demi ayat dan surat demi surat, sesuai dengan urutannya yang terdapat dalam mushhaf ‘Utsmani yang ada sekarang. Mulai dari awal surat al-Fatihah sampai dengan akhir surat an-Nas.

 

2.  Metode Ijmaly (metode Global)

Yaitu penafsiran Alquran secara singkat dan global, tanpa uraian panjang lebar, tapi mencakup makna yang dikehendaki dalam ayat. Dalam hal ini mufassir hanya menjelaskan arti dan maksud ayat dengan uraian singkat yang dapat menjelaskan artinya sebatas makna yang terkait secara langsung, tanpa menyinggung hal-hal tidak terkait secara langsung dengan ayat. Tafsir dengan metode ini sangat praktis untuk mencari makna mufradat kalimat-kalimat yang gharib dalam Alquran. Di antara kitab-kitab tafsir yang termasuk menggunakan metode Ijmali  ini antara lain:

a)    Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Muhammad Farid Wajdi,

b)    Al-Tafsir al-Wasith, Produk Lembaga Pengkajian Universitas Al-Azhar, Kaero.

c)    Tafsir al-Jalalain, karya Jalaluddin al-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahally,

d)    Shafwah al-Bayan Li Ma’ani al-Qur’an, karya Syeikh Husanain Muhammad Makhlut,

e)    Tafsir al-Qur’an, karya Ibnu Abbas yang dihimpun oleh Fayruz Abady,

f)     At-Tafsir al-Muyassar, karya Syeikh Abdul Jalil Isa,

g)    Taj al-Tafasir, karya Muhammad Utsman al-Mirghani [al-‘Aridh, 1992: 74; Baidan, 1998: 13].

 

3.  Metode Muqaran (metode Komparasi/Perbandingan)

Tafsir dengan metode muqaran adalah menafsirkan Alquran dengan cara mengambil sejumlah ayat Alquran, kemudian mengemukakan pendapat para ulama tafsir dan membandingkan kecendrungan para ulama tersebut, kemudian mengambil kesimpulan dari hasil perbandingannya [al-‘Aridh, 1992: 75]. Namun menurut Baidan [1998: 65], Metode komparatif (muqaran) ialah:

a)    Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Alquran yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih; dan atau memiliki redaksi yang berbeda tentang satu kasus yang sama,

b)    Membandingkan ayat Alquran dengan Hadits, yang sep-intas terlihat bertentangan,

c)    Membandingkan pendapat berbagai ulama tafsir dalam menafsirkan suatu ayat.

 

4.  Metode Maudhu’i (metode Tematik)

Yaitu metode yang ditempuh oleh seorang mufassir untuk menjelaskan konsep Alquran tentang suatu masalah/tema tertentu dengan cara menghimpun seluruh ayat Alquran yang membicarakan tema tersebut. Kemudian masing-masing ayat tersebut dikaji secara komprehensif, mendalam dan tuntas dari berbagai aspek kajiannya. Baik dari segi asbabun nuzulnya, munasabahnya, makna kosa katanya, pendapat para mufassir tentang makna masing-masing ayat secara parsial, serta aspek-aspek lainnya yang dipandang penting. Ayat-ayat tersebut dipandang sebagai satu kesatuan yang integral membicarakan suatu tema (maudhu’) tertentu didukung oleh berbagai fakta dan data, dikaji secara ilmiah dan rasional.

Demikian luasnya sudut pandang yang digunakan dalam metode tafsir ini, maka sebagian ulama menyebutnya sebagai metode yang paling luas dan lengkap. Bahkan ketiga metode yang disebutkan sebelumnya, semuanya diterapkan secara intensif dalam metode ini.

Ciri utama metode ini adalah terfokusnya perhatian pada tema, baik tema yang ada dalam Alquran itu sendiri, maupun tema-tama yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, metode ini dipandang sebagai metode yang paling tepat untuk mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan umat manusia. Karena ia dapat memberikan jawaban dengan konsep Alquran terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia.

Lebih dari itu, jawaban Alquran yang disajikan melalui metode tafsir maudhu’i ini dapat memperkecil kontroversi pemahaman tentang sesuatu masalah. Karena ayat-ayat yang ditafsirkannya dipahami secara integral, tidak parsial, sehingga pemahamannya tidak terkotak-kotak pada suatu ayat tertentu dan pendapat mufassir tertentu pula.

Kitab-kitab tafsir yang disusun dengan menggunakan metode maudhu’i, tidak didapati dalam bentuk kitab-kitab tafsir dengan metode yang lain. Karena ia sifatnya tematik, maka pemunculannya berupa buku-buku mengenai tema tertentu yang digali dari Alquran. Contohnya seperti:

a)    Al-Insan Fi al-Quran, dan, Al-Mar’ah Fi al-Qur’an, karya Abbas Mahmud al-‘Aqqad,

b)    Al-Riba Fi al-Qur’an, karya Abu al-A’la al-Maududi.           

 

E.  Aplikasi Metode Tematik ( موضوعى)

1.    Menetapkan Masalah yang akan dibahas

2.    Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut

3.    Menyusun urutan kronologis turunnya ayat-ayat diserta pengetahuan tentang sebab nuzulnya;

4.    Memahami korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing;

5.    Menyusun outline (kerangka pembahasan yang sistematis;

6.    Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan masalah yang dikaji;

7.    Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan agar tidak terjadi kontradiksi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

a)    menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama,

b)    mengkompromikan antara ayat yang ‘aam (umum) dengan ayat yang khash (khusus), yang muthlaq dengan muqayyad atau ayat-ayat yang sepintas kelihatan bertentangan; sehingga semuanya terfokus pada satu kesatuan konsep, tanpa adanya perbedaan atau pemaksaan. [Al-Farmawi, dalam Qureish Shihab, 1992: 114 – 115]

 


Referensi:

الدكتور صبحى الصالح, مباحث فى علوم القرآن, دار العلم للملايين, بيروت, ط. 17, 1988

Dr. Shubhi ash-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Alquran (Penterjemah Tim Pustaka Firdaus), Pustaka Firdaus, Jakarta, Cet. IV, 1993

الدكتور مناع خليل القطان, مبلحث فى علوم القرآن, منشورة العصر الحديثة, رياض, 1973

Dr. Manna’ Khalil al-Qaththan, Study Ilmu-ilmu Quran (Penterjemah Drs. Mudzkir AS.), Litera Antar Nusa, Bogor, Cet. I, 1992

 

جلال الدين عبد الرحمن السيوطى, الإتقان فى علوم القرآن, مصطفى البابى الحلبى, مصر, 1951

محمد عبد العظيم الزرقانى, مناهل العرفان فى علوم القرآن, دار الفكر, بيروت, لبنان, 1988

الدكتور محمد حسين الذهبى, التفســـير والمفســرون, دار الكتب الحديثة, 1976

Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqie, Ilmu-ilmuAlquran, Bulan Bintang, Jakarta. 

 

———-, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1980

 

Rif’at Syauqi Nawawi dan M. Ali Hasan, Pengantar lmu Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1985

Dr. Fuad bin Abdurrahman ar-Rumi, دراسات فى علوم القرآن (Ulumul-Quran: Studi Kompleksitas Alquran), Titian Ilahi, Yogyakarta, 1997

Departemen Agama RI, Muqaddimah Alquran dan Tafsirnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci, Jakarta

 

بدر الدين محمد بن عبد الله الزركاشى, البرهان فى علوم القرآن, عيسى البابى الحلبى و شركاه, د.س

Ahmad Von Denffer, Ulumul Quran: An Introduction to The Sciences of The Qur’an (Ilmu-ilmu Alquran: Pengantar dasar), Terj. Ahmad Nashir Budiman, CV Rajawali, Jakarta, 1988

محمد بن لطفى السبــاق, لمحات فى علوم القرآن واتجاهات التفســير, المكتبة الاســلامى, بيروت, ط.3, 1990

 

Dr. Hasanuddin AF. Anatomi Alquran: Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum dalam Alquran, Rajawali Press, Jakarta, 1995

 

Prof. Dr. Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, UI-Press, Jakarta, 1986

 

H. Ahmad Fathoni, Lq., Kaedah Qiraat Tujuh, Institut Studi Ilmu Alquran (ISIQ), Jakarta, 1992

 

———-, “QIRAAT TUJUH ALQURAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN RASAM USMANY”, dalam     Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

 

M. Qureish Shihab, Membumikan Alquran, Mizan, Bandung, 1992

 

———-, Mukjizat Alquran, Mizan, Bandung, 1997

M. Mutawally asy-Sya’rawi,  معجــزة القـــرآن (Mukjizat Alquran), Risalah, Bandung, 1984

Prof. K.H. Busthami Abdul Ghani, “Alquran sebagai Mukjizat dan Hidayat” dalam Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

Drs. H. Khotibul Umam, “Kemukjizatan alquran dari segi Uslaub dan Isi”, dalam Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

Sayyid Ahmad Saqar (ed.), اعجاز القـرآن  للباقـــلانى,  دار المعارف, القاهــرة, دس.

Dr. Hamdani Anwar,  Pengantar Ilmu Tafsir (bagian Ulumul Quran), Fikahati Aneska, Jakarta, 1995

 

Drs. Ramli Abdul Wahid,  UlumulQuran, Rajawali, Jakarta, 1994

M. Ali ash-Shabuni, التبيــان فى علــوم  القـرآن (Pengantar Studi Alquran), PT. Alma’arif, Bandung, 1987

Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, Al-Haramain, Jeddah, t.t.

Dr. Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Alquran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998     

 Al-Khudhary, Syeikh Muhammad, Tarikh at-Tasyri’ al-Islamy, Darul-Fikr, Beirut, 1981

 

Qiraan Alquran

Oktober 16, 2008

Qira’at Alquran

(Oleh Drs. Masran, M. Ag.)

 

A. Pengertian Qiraat Alquran

Secara bahasa kata قراءات  merupakan bentuk jama’ dari kata قراءة , mashdar  dari kata قرأ   yang  berarti membaca; jadi, قراءة\قراءات  berarti bacaan. Sedangkan menurut isthilah, seperti dikemukakan oleh Az-Zarqani (1988: I, 412),  Qira’at adalah:

مذهب يذهب اليه امام من أئمة القرآء مخالفا به غيره فى النطق بالقرآن الكريم مع اتفاق الروايات و الطرق عنه سواء أكانت هذه المخالفة فى نطق الحروف أم فى نطق هيئاتها

(suatu madzhab yang dianut oleh salah seorang Imam Qiraat yang berbeda dengan madzhab lainnya dalam hal pengucapan Alquran disertai kesepakatan riwayat dan jalur-jalur pengucapannya; baik perbedaan tersebut dalam hal pengucapan huruf, maupun dalam hal pengucapan sifat-sifat hurufnya.)

Pendapat lain, seperti dikemukakan oleh Abdul Fatah al-Qadhi, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Fathoni, Lc. (PTIQ, 1986: 112).  Qiraat disefinisikan sebagai berikut:

علم يعرف به كيفية النطق في الكلمات القرآنية وطريق آدائها اتفاقا واختلافا مع عزو كل وجه لناقله

Ilmu yang membahas tentang taacara pengucapan kalimat-kalimat Alquran berikut cara pelaksanaannya, baik yang disepakati maupun yang diperselisihkan, dengan menisbatkan setiap madzhab bacaannya kepada (imam qiraat) yang menuklilnya.

Pengertian ini mempertegas perbedaan antara Qiraat dengan Tajwid, yang dalam pemakaian sehari-hari sering dicampuradukkan pengertiannya. Karena itu, pada bagian ini perlu diperjelas perbedaan pengertian kedua macam ilmu ini. Menurut Hasanuddin AF [1995: 118 – 119] perbedaan antara Qiraat dengan Tajwid dapat dikemukakan sebagai berikut:

Qiraat adalah cara pengucapan lafaz-lafaz Alquran yang berkenaan dengan substansi lafaz, kalimat, ataupun dialek kebahasaan. Sedangkan Tajwid adalah kaedah-kaedah yang bersifat teknis dalam upaya memperbagus dan memperindah bacaan Alquran, dengan cara membunyikan huruf-huruf Alquran tersebut sesuai dengan makhraj serta sifat-sifatnya.

 

B. Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qiraat

Berbagai macam pendapat di kalangan para ulama tentang seba-sebab terjadinya perbedaan qiraat. Namun dari kesemua pendapat itu dapat disimpulkan, bahwa sumber penyebab adanya perbedaan qiraat itu adalah bermuara dari Nabi sendiri; baik karena Nabi menyampaikan dan membacakannya kepada para sahabat dengan versi qiraat yang berbeda, maupun karena adanya taqrir (pengakuan) dari Nabi terhadap perbedaan-perbedaan para sahabat dalam melafazkan Alquran [Hasanuddin AF: 131 – 132].

Kenyataan ini dapat dilihat dari beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Buchari dan Musli, di antaranya:

أن عمربن الخطاب رضي الله عنه يقول: سمعت هشام بن حكيم يقرأ سورة الفرقان في حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فاستمعت لقراءته، فإذا هو يقرؤها على حروف كثيرة لم يقرئنيها رسول الله صلى الله عليه وسلم. فكدت أساوره في الصلاة، فانتظرته حتى سلم. ثم لببته بردائه، قلت: من أقرأك هذه السورة؟ قال: أقرأنيها رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت له: كذبت، فوالله، إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أقرأني هذه السورة التي سمعتك تقرؤها. فانطلقت أقوده إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت: يا رسول الله، إني سمعت هذا يقرء سورة الفرقان على حروف لم تقرئنيها، وأنت أقرأتني سورة الفرقان، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم، أرسله يا عمر، اقرأ ياهشام، فقرأ هذه القراءة التي سمعته يقرأها. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: هــكذا أنزلت، ثم قال: إن هذا القرآن أنزل على سبعت أحرف فاقرأوا ما تيسر منه. (رواه البخاري و مسلم)

Artinya: Bahwa Umar bin al-Khaththab r.a. berkata: Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat al-Furqan pada masa Rasulullah Saw. masih hidup. Maka aku sengaja mendengarkan bacaannya. Ternyata dia membacanya dengan huruf yang banyak (bermacam-macam bacaan); sedangkan Nabi belum pernah membacakannya (bacaan seperti itu) kepadaku. Hampir saja aku jambak dia dalam shalat, namun aku berusaha untuk sabar sampai dia salam (selesai shalat). Begitu dia salam, aku tarik leher bajunya sambil kutanyakan, siapa yang membacakan (mengajari membaca) surat tadi? Hisyam menjawab, yang mengajarkan bacaan tadi adalah Rasulullah Saw. sendiri. Aku gertak dia, “kau bohong”. Demi Allah, Rasulullah Saw. telah membacakan surat itu kepadaku (tapai tidak seperti bacaanmu tadi). Maka akhirnya kuajak dia menghadap Rasulullah Saw. dan kuceritakan peristiwanya kepada Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw. menyuruh Hisyam membaca surat al-Furqan sebagaimana yang dibacanya di hadapan Umar. Lalu Rasulullah Saw. berkomentar, “Demikianlah Alquran diturunkan”, selanjutnya Rasulullah bersabda lagi: “Sesungguhnya Alquran itu diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah dengan (salah satu bacaan) yang kau anggap mudah. [H. R. Bukhari dan Muslim].

     Hadits lain yang juga diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim mengenai keberadaan qiraat ini* adalah sebagai berikut:

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أقرأني جبريل على حرف فراجعته، فلم أزل أستزيده ويزيدني حتى انتهى على سبعة أحرف . (رواه البخاري و مسلم)

Artinya: Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “ Jibril telah membaca Alquran kepadaku dengan satu huruf. Aku senantiasa mendesak dan berulangkali meminta agar ditambah, dan ia (Jibril) menambahnya samapai tujuh huruf. (H. R. Bukhari dan Muslim)

     Dari kedua hadits di atas muncul suatu persoalan tentang pengertian frase/kalimat “tujuh huruf” (سبعة أحرف) .  Mengenai persoalan ini para ulama berbeda pendapat dalam memberikan penjelasannya. Bahkan Imam as-Suyuthi menyebutkan, terdapat lebih dari 40 macam pendapat tentang pengertian “tujuh huruf” ini.  Di antara pendapat tersebut adalah:

1.    Tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari bahasa-bahasa yang terkenal di kalangan bangsa Arab, yaitu: Bahasa Qureisy, Huzail, Tsaqif, Hawaziz, Kinanah, Tamim, dan Yaman.

2.    Tujuh huruf adalah tujuh aspek hukum/ajaran,  yaitu: perintah, larangan, halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal.

3.    Tujuh huruf adalah tujuh macam bentuk  keragaman lafal atau kalimat. Pendapat yang terakhir ini, menurut penilaian as-Suyuthi, adalah yang paling masyhur dan paling mendekati kebenaran. Pendapat ini dikemukakan oleh  Abu al-Fadhl al-Razi. Menurut al-Razi, ketujuh macam bentuk perbedaan itu meliputi hal-hal sebagai berikut:

 a     Perbedaan pada bentuk isim (antara mufrad, mutsanna, atau jama’). Seperti terdapat pada surat al-Mu’minun: 8;

و الذين هم لأمنــتهم و عهدهم راعون

Lafal  لأمنتهم  pada ayat di atas ada yang membaca mufrad (dengan memendekkan huruf  nun) dan ada juga yang membaca jama’ (dengan memanjangkan huruf nun).

 b    Perbedaan dalam melafalkan bentuk kalimat fi’il . Seperti terdapat pada surat Saba’, ayat 19

فقالوا ربنا بعد بين أسفارنا

Kalimat  بــعــد pada ayat di atas, menurut qiraat ‘Ashim, dibaca dalam bentuk fi’il amr. Namun qiraat lain ada yang membacanya dalam bentuk fi’il madhi (ba’ada).

 c     Perbedaan dalam bentuk ibdal (penggantian). Seperti terdapat pada surat Al-Baqarah: 259

وانظر إلى العظام كيف نُنْشِزُهَا ثم نكسوها لحما

Huruf  zay  (ز) pada kalimat ننشزها  dalam ayat di atas, oleh qiraat yang lain ada yang menggantinya dengan huruf ra’ (ر), sehingga dibaca  ننشرها .

 d    Perbedaan dalam bentuk Taqdim (mendahulukan) dan Ta’khir (menta’khirkan). Seperti terdapat pada surat al-Taubah ayat 111,

يقـتلون في سبيل الله فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ

Kalimat yaqtuluna pada ayat di atas dibaca dengan mendahulukannya daripada kalimat yuqtaluna. Sedangkan pada qiraat yang lain ada yang membaca sebaliknya, yakni mendahulukan kalimat yuqtaluna daripada yaqtuluna. Atau dengan kata lain, kalimat yaqtuluna dita’khirkan.

 e     Perbedaan dalam hal I’rab. Seperti terdapat pada surat al-Maidah ayat 6

فاغسلوا وجوهكم و أيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤوسكم و أرجلكم إلى الكعبين

Kalimat  öNà6n=ã_ö‘r& pada ayat di atas, dalam qiraat yang lain dibaca أَرْجُلِكُمْ (dengan mengkasrahkan huruf lam). Hal ini terjadi karena kalimat tersebut di’athafkan kepada lafal ru’usikum (majrur bil-ba’). Sedangkan kalau dibaca arjulakum berarti di’athafkan ke lafal wujuhakum (maf’ulbih, manshub bil-fathah)

 f      Perbedaan dalam bentuk naqish wa ziyadah (Pengurangan dan Penambahan). Seperti terdapat pada  surat Ali Imran ayat 132,

و سارعوا إلى مغفرة من ربكم و جنة عرضها السمــوات و الأرض 

Kalimat وَسَارِعُوْا  pada ayat di atas dibaca dengan menambahkan huruf waw. Sedangkan pada qiraat yang lain dibaca dengan mengurangi huruf waw, jadi dibaca سَارِعُوْا  .

 g    Perbedaan dalam bentu lahjah (dialek). Seperti  bacaan Imalah, Tarqiq, Tafkhim, Izhar,Idgham,  Saktah, dll.

    

C. Syarat-syarat Qiraat Mu’tabarah

1.  Sesuai dengan Rasmul Mushaf/Rasm Usmaniy.

2.  Sesuai dengan kaedah bahasa Arab.

3.  Sanadnya Mutawatir

 

D. Pengaruh Perbedaan Qiraan terhadap hasil Istinbath Hukum

Perbedaan Qiraat yang berkaitan dengan substansi lafaz atau kalimat kadangkala menyebabkan terjadinya perbedaan makna dan kadangkala juga tidak. Karena itu, perbedaan qiraat adakalanya berpengaruh terhadap hasil istinbath hukum dan adakalanya juga tidak berpengaruh. Tentang kedua hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)  Perbedaan Qiraat yang berpengaruh terhadap hasil istinbath hukum:

Contoh 1: Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah/2: 222,

و يسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذى تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين (البقرة: 222)

(Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah: haidh itu adalah suatu kotorang. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka sampai mereka suci. Apabila mereka telaah  suci, maka campurilah mereka sebagaimana Allah perintahkan kepadamu.  Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.)

Perbedaan qiraat dalam ayat ini terjadi pada kalimat حتى يطهرن .  Dalam hal ini sebagian dari Imam-imam Qiraat, seperti Hamzah, Al-Kisa’i, dan ‘Ashim riwayat Syu’bah, membaca kalimat tersebut dengan  Hatta yaththahharna. Sedangkan sebagian imam-imam qiraat lainnya, seperti Ibnu Katsir, Nafi’, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Amir, dan ‘Ashim riwayat Hafsh membaca kalimat tersebut dengan Hatta Yathhurna. Perbedaan qiraat seperti ini berakibat pada perbedaan makna (hasil isthinbath hukum) yang dikeluarkannya.

Jika dibaca  Hatta Yaththahharna, maka artinya, sampai mereka (wanita yang haidh) itu suci dari haidh dan mensucikan dirinya dengan mandi junub. Maksudnya, sorang  isteri (wanita) yang  sedang haidh, baru boleh dicampuri apabila haidhnya sudah berhenti (suci dari haidh) dan mensucikan dirinya dengan mandi junub. Sebelum mandi junub, belum boleh dicampuri.

Sebaliknya, jika dibaca Hatta Yathhurna, maka artinya, sampai mereka itu suci dari haidh (tanpa harus mandi junub lebih dahulu). Maksudnya, apabila wanita tersebut sudah berhenti haidhnya (suci dari haidh) boleh langsung dicampuri oleh suaminya, tanpa harus mandi junub lebih dahulu.

Contoh 2: Firman Allah dalam Surat An-Nisa/4: 43,

وإن كنتم مرضى أو على سفر أو جاء أحد منكم من الغائط أو لمستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم إن الله كان عفوا غفورا (النساء: 42)

(Dan jika kamu sakitatau sedang dalam perjalanan atau datang dari tempat buang air atau kamu bersentuhan dengan perempuan, kemudian kamu tidak menemukan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang suci, sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun)

Penggalan ayat yang digarisbawahi di atas berbicara tentang batalnya wudhu’ yang disebabkan bersentuhnya  laki-laki dengan perempuan.

Perbedaan qiraat yang terjadi pada kalimat dalam ayat ini adalah sebagai berikut:

Imam Ibnu Katsir, Nafi’, ‘Ashim, Abu ‘Amr dan Ibnu ‘Amir membaca penggalan ayat tersebut dengan memanjangkan huruf lam (لاَمَسْتُمُ النِّساءَ), sedangkan Imam Hamzah dan al-Kisa’i membaca dengan memendekkan huruf lam  (لَمَسْتُمُ النِّسَآءَ).

Menurut madzhab Hanafi dan Maliki, bersentuhan biasa antara laki-laki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’. Karena dengan berpegang pada qiraat لامستم (memanjangkan lam), yang mengandung arti adanya unsur kesengajaan untuk saling bersentuhan, dalam hal ini adalah hubungan suami istri (jima’), maka bersentuhan biasa tidak membatalkan wudhu’.

Sedangkan Imam asy-Syafi’i berpendapat, bahwa bersentuhan biasa dapat membatalkan wudhu’. Karena dengan berpegang pada qiraat لَمَسْتُمْ (memendekkan lam), berarti persentuhan dilakukan oleh salah satu pihak, tanpa harus ada unsur kesengajaan untuk saling bersentuhan yang mengandung arti jima’.  Dalam hal ini terlihat, bahwa perbedaan qiraat dapat mengakibatkan perbedaan hasil istinbath hukum.

 

2)  Perbedaan Qiraat yang Tidak Mengakibatkan Perbedaan Hasil Istinbath Hukum.

Contoh, firman Allah:

و على الذين يطيقونه فديةٌ طعامُ مِسْكين (البقرة: 184)

dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin.

Perbedaan qiraat terjadi pada lafal yang digarisbawahi dalam ayat di atas. Imam-imam Ibnu Katsir, ‘Ashim, Abu ‘Amr, Hamzah dan al-Kisa’i membaca sebagaimana tulusan di atas. Sedangkan Imam Nafi’ dan Ibnu ‘Amir membaca  فِدْ يَةُ طَعَامِ مَسَاكِيْنَ. Walaupun perbedaan dua wajah qiraat ini sangat menonjol, yakni bentuk mufrad pada wajah pertama dan bentuk jama’ pada wajah kedua, namun pengertiannya tidak berbeda.

Jika dibaca dengan wajah pertama, maka mengandung arti, bahwa orang miskin yang harus diberi makan jumlahnya banyak. Karena orang yang tidak berpuasa (الذين يطيقونه) diungkapkan dalam bentuk jama’. Artinya, jika setiap orang yang tidak berpuasa memberi makan satu orang miskin, maka apabila banyak orang yangt harus membayar fidyah, si penerima fidyah pun  jumlahnya juga banyak.

 

E.  Kegunaan mempelajari Qiraat Alquran

Qiraat Alquran adalah pengetahuan praktis yang hanya dapat diperoleh dengan mempelajarinya secara langsung dari guru atau imam qiraat yang kompeten. Karena itu ia tidak bisa hanya dipelajari melalui buku-buku bacaan, atau membacanya sendiri secara langsung dari mushaf Alquran, tanpa di bawah bimbingan seorang guru. Dengan demikian, setiap muslim yang membaca Alquran dituntut untuk mengetahui mata rantai qiraat Alquran yang dipraktekkannya sampai kepada Rasulullah. Atau paling tidak ia harus mengetahui imam qiraat yang meriwayatkan dan menukilnya dari sumber terpercaya, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara mutawatir, bahwa qiraat tersebut benar-benar bersumber dari Rasulullah Saw.

Dalam hal ini, hampir seluruh umat Islam Indonesia, bahkan seluruh dunia saat ini mempraktekkan Qiraat Alquran Imam ‘Ashim yang diriwayatkan oleh Imam Hafsh. Dengan demikian, salah satu kegunaan mempelajari Ilmu Qiraat yang pertama adalah dapat mempertegas Qiraat yang kita praktekkan sebagai qiraat yang benar dan bersumber dari Rasulullah.  

Kedua, dengan mengetahui adanya qiraat dari imam-imam lain yang juga bernilai mutawatir,  kita dapat menyadari bahwa qiraat yang kita praktekkan bukanlah satu-satunya qiraat yang sah atau mu’tabarah.

Ketiga, dengan pengetahuan tentang adanya perbedaan qiraat yang berakibat pada perbedaan hasil istinbath hukum, maka kita dapat berlapang dada menerima perbedaan yang ada.

Keempat, bagi orang yang ingin memahami makna Alquran secara luas dan mendalam, pengetahuan tentang qiraat dapat membantu mereka menemukan makna-makna Alquran secara lebih luas lagi.   

 

 

Referensi:

الدكتور صبحى الصالح, مباحث فى علوم القرآن, دار العلم للملايين, بيروت, ط. 17, 1988

Dr. Shubhi ash-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Alquran (Penterjemah Tim Pustaka Firdaus), Pustaka Firdaus, Jakarta, Cet. IV, 1993

الدكتور مناع خليل القطان, مبلحث فى علوم القرآن, منشورة العصر الحديثة, رياض, 1973

Dr. Manna’ Khalil al-Qaththan, Study Ilmu-ilmu Quran (Penterjemah Drs. Mudzkir AS.), Litera Antar Nusa, Bogor, Cet. I, 1992

جلال الدين عبد الرحمن السيوطى, الإتقان فى علوم القرآن, مصطفى البابى الحلبى, مصر, 1951

محمد عبد العظيم الزرقانى, مناهل العرفان فى علوم القرآن, دار الفكر, بيروت, لبنان, 1988

الدكتور محمد حسين الذهبى, التفســـير والمفســرون, دار الكتب الحديثة, 1976

Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqie, Ilmu-ilmuAlquran, Bulan Bintang, Jakarta.         

———-, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1980

Rif’at Syauqi Nawawi dan M. Ali Hasan, Pengantar lmu Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1985

Dr. Fuad bin Abdurrahman ar-Rumi, دراسات فى علوم القرآن (Ulumul-Quran: Studi Kompleksitas Alquran), Titian Ilahi, Yogyakarta, 1997

Departemen Agama RI, Muqaddimah Alquran dan Tafsirnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci, Jakarta

بدر الدين محمد بن عبد الله الزركاشى, البرهان فى علوم القرآن, عيسى البابى الحلبى و شركاه, د.س

Ahmad Von Denffer, Ulumul Quran: An Introduction to The Sciences of The Qur’an (Ilmu-ilmu Alquran: Pengantar dasar), Terj. Ahmad Nashir Budiman, CV Rajawali, Jakarta, 1988

محمد بن لطفى السبــاق, لمحات فى علوم القرآن واتجاهات التفســير, المكتبة الاســلامى, بيروت, ط.3, 1990

Dr. Hasanuddin AF. Anatomi Alquran: Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum dalam Alquran, Rajawali Press, Jakarta, 1995

Prof. Dr. Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, UI-Press, Jakarta, 1986

H. Ahmad Fathoni, Lq., Kaedah Qiraat Tujuh, Institut Studi Ilmu Alquran (ISIQ), Jakarta, 1992

———-, “QIRAAT TUJUH ALQURAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN RASAM USMANY”, dalam          Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

M. Qureish Shihab, Membumikan Alquran, Mizan, Bandung, 1992

———-, Mukjizat Alquran, Mizan, Bandung, 1997

M. Mutawally asy-Sya’rawi,  معجــزة القـــرآن (Mukjizat Alquran), Risalah, Bandung, 1984

Prof. K.H. Busthami Abdul Ghani, “Alquran sebagai Mukjizat dan Hidayat” dalam Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

Drs. H. Khotibul Umam, “Kemukjizatan alquran dari segi Uslub dan Isi”, dalam Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

Sayyid Ahmad Saqar (ed.), اعجاز القـرآن  للباقـــلانى,  دار المعارف, القاهــرة, دس.

Dr. Hamdani Anwar,  Pengantar Ilmu Tafsir (bagian Ulumul Quran), Fikahati Aneska, Jakarta, 1995

Drs. Ramli Abdul Wahid,  UlumulQuran, Rajawali, Jakarta, 1994

M. Ali ash-Shabuni, التبيــان فى علــوم  القـرآن (Pengantar Studi Alquran), PT. Alma’arif, Bandung, 1987

Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, Al-Haramain, Jeddah, t.t.

Dr. Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Alquran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998

Al-Khudhary, Syeikh Muhammad, Tarikh at-Tasyri’ al-Islamy, Darul-Fikr, Beirut, 1981

 



* Kenyataan historis ini dapat menepis anggapan sebagian orientalis, seperti Ignaze Goldziher, yang mengatakan bahwa perbedaan qiraat itu disebabkan tulisan Alquran dengan Rasam Usmani  yang dalam bentuk penulisannya tidak menggunakan titik dan syakal.

Hello world!

Oktober 16, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!