Qiraan Alquran

Qira’at Alquran

(Oleh Drs. Masran, M. Ag.)

 

A. Pengertian Qiraat Alquran

Secara bahasa kata قراءات  merupakan bentuk jama’ dari kata قراءة , mashdar  dari kata قرأ   yang  berarti membaca; jadi, قراءة\قراءات  berarti bacaan. Sedangkan menurut isthilah, seperti dikemukakan oleh Az-Zarqani (1988: I, 412),  Qira’at adalah:

مذهب يذهب اليه امام من أئمة القرآء مخالفا به غيره فى النطق بالقرآن الكريم مع اتفاق الروايات و الطرق عنه سواء أكانت هذه المخالفة فى نطق الحروف أم فى نطق هيئاتها

(suatu madzhab yang dianut oleh salah seorang Imam Qiraat yang berbeda dengan madzhab lainnya dalam hal pengucapan Alquran disertai kesepakatan riwayat dan jalur-jalur pengucapannya; baik perbedaan tersebut dalam hal pengucapan huruf, maupun dalam hal pengucapan sifat-sifat hurufnya.)

Pendapat lain, seperti dikemukakan oleh Abdul Fatah al-Qadhi, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Fathoni, Lc. (PTIQ, 1986: 112).  Qiraat disefinisikan sebagai berikut:

علم يعرف به كيفية النطق في الكلمات القرآنية وطريق آدائها اتفاقا واختلافا مع عزو كل وجه لناقله

Ilmu yang membahas tentang taacara pengucapan kalimat-kalimat Alquran berikut cara pelaksanaannya, baik yang disepakati maupun yang diperselisihkan, dengan menisbatkan setiap madzhab bacaannya kepada (imam qiraat) yang menuklilnya.

Pengertian ini mempertegas perbedaan antara Qiraat dengan Tajwid, yang dalam pemakaian sehari-hari sering dicampuradukkan pengertiannya. Karena itu, pada bagian ini perlu diperjelas perbedaan pengertian kedua macam ilmu ini. Menurut Hasanuddin AF [1995: 118 – 119] perbedaan antara Qiraat dengan Tajwid dapat dikemukakan sebagai berikut:

Qiraat adalah cara pengucapan lafaz-lafaz Alquran yang berkenaan dengan substansi lafaz, kalimat, ataupun dialek kebahasaan. Sedangkan Tajwid adalah kaedah-kaedah yang bersifat teknis dalam upaya memperbagus dan memperindah bacaan Alquran, dengan cara membunyikan huruf-huruf Alquran tersebut sesuai dengan makhraj serta sifat-sifatnya.

 

B. Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qiraat

Berbagai macam pendapat di kalangan para ulama tentang seba-sebab terjadinya perbedaan qiraat. Namun dari kesemua pendapat itu dapat disimpulkan, bahwa sumber penyebab adanya perbedaan qiraat itu adalah bermuara dari Nabi sendiri; baik karena Nabi menyampaikan dan membacakannya kepada para sahabat dengan versi qiraat yang berbeda, maupun karena adanya taqrir (pengakuan) dari Nabi terhadap perbedaan-perbedaan para sahabat dalam melafazkan Alquran [Hasanuddin AF: 131 – 132].

Kenyataan ini dapat dilihat dari beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Buchari dan Musli, di antaranya:

أن عمربن الخطاب رضي الله عنه يقول: سمعت هشام بن حكيم يقرأ سورة الفرقان في حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فاستمعت لقراءته، فإذا هو يقرؤها على حروف كثيرة لم يقرئنيها رسول الله صلى الله عليه وسلم. فكدت أساوره في الصلاة، فانتظرته حتى سلم. ثم لببته بردائه، قلت: من أقرأك هذه السورة؟ قال: أقرأنيها رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت له: كذبت، فوالله، إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أقرأني هذه السورة التي سمعتك تقرؤها. فانطلقت أقوده إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت: يا رسول الله، إني سمعت هذا يقرء سورة الفرقان على حروف لم تقرئنيها، وأنت أقرأتني سورة الفرقان، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم، أرسله يا عمر، اقرأ ياهشام، فقرأ هذه القراءة التي سمعته يقرأها. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: هــكذا أنزلت، ثم قال: إن هذا القرآن أنزل على سبعت أحرف فاقرأوا ما تيسر منه. (رواه البخاري و مسلم)

Artinya: Bahwa Umar bin al-Khaththab r.a. berkata: Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat al-Furqan pada masa Rasulullah Saw. masih hidup. Maka aku sengaja mendengarkan bacaannya. Ternyata dia membacanya dengan huruf yang banyak (bermacam-macam bacaan); sedangkan Nabi belum pernah membacakannya (bacaan seperti itu) kepadaku. Hampir saja aku jambak dia dalam shalat, namun aku berusaha untuk sabar sampai dia salam (selesai shalat). Begitu dia salam, aku tarik leher bajunya sambil kutanyakan, siapa yang membacakan (mengajari membaca) surat tadi? Hisyam menjawab, yang mengajarkan bacaan tadi adalah Rasulullah Saw. sendiri. Aku gertak dia, “kau bohong”. Demi Allah, Rasulullah Saw. telah membacakan surat itu kepadaku (tapai tidak seperti bacaanmu tadi). Maka akhirnya kuajak dia menghadap Rasulullah Saw. dan kuceritakan peristiwanya kepada Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw. menyuruh Hisyam membaca surat al-Furqan sebagaimana yang dibacanya di hadapan Umar. Lalu Rasulullah Saw. berkomentar, “Demikianlah Alquran diturunkan”, selanjutnya Rasulullah bersabda lagi: “Sesungguhnya Alquran itu diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah dengan (salah satu bacaan) yang kau anggap mudah. [H. R. Bukhari dan Muslim].

     Hadits lain yang juga diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim mengenai keberadaan qiraat ini* adalah sebagai berikut:

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أقرأني جبريل على حرف فراجعته، فلم أزل أستزيده ويزيدني حتى انتهى على سبعة أحرف . (رواه البخاري و مسلم)

Artinya: Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “ Jibril telah membaca Alquran kepadaku dengan satu huruf. Aku senantiasa mendesak dan berulangkali meminta agar ditambah, dan ia (Jibril) menambahnya samapai tujuh huruf. (H. R. Bukhari dan Muslim)

     Dari kedua hadits di atas muncul suatu persoalan tentang pengertian frase/kalimat “tujuh huruf” (سبعة أحرف) .  Mengenai persoalan ini para ulama berbeda pendapat dalam memberikan penjelasannya. Bahkan Imam as-Suyuthi menyebutkan, terdapat lebih dari 40 macam pendapat tentang pengertian “tujuh huruf” ini.  Di antara pendapat tersebut adalah:

1.    Tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari bahasa-bahasa yang terkenal di kalangan bangsa Arab, yaitu: Bahasa Qureisy, Huzail, Tsaqif, Hawaziz, Kinanah, Tamim, dan Yaman.

2.    Tujuh huruf adalah tujuh aspek hukum/ajaran,  yaitu: perintah, larangan, halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal.

3.    Tujuh huruf adalah tujuh macam bentuk  keragaman lafal atau kalimat. Pendapat yang terakhir ini, menurut penilaian as-Suyuthi, adalah yang paling masyhur dan paling mendekati kebenaran. Pendapat ini dikemukakan oleh  Abu al-Fadhl al-Razi. Menurut al-Razi, ketujuh macam bentuk perbedaan itu meliputi hal-hal sebagai berikut:

 a     Perbedaan pada bentuk isim (antara mufrad, mutsanna, atau jama’). Seperti terdapat pada surat al-Mu’minun: 8;

و الذين هم لأمنــتهم و عهدهم راعون

Lafal  لأمنتهم  pada ayat di atas ada yang membaca mufrad (dengan memendekkan huruf  nun) dan ada juga yang membaca jama’ (dengan memanjangkan huruf nun).

 b    Perbedaan dalam melafalkan bentuk kalimat fi’il . Seperti terdapat pada surat Saba’, ayat 19

فقالوا ربنا بعد بين أسفارنا

Kalimat  بــعــد pada ayat di atas, menurut qiraat ‘Ashim, dibaca dalam bentuk fi’il amr. Namun qiraat lain ada yang membacanya dalam bentuk fi’il madhi (ba’ada).

 c     Perbedaan dalam bentuk ibdal (penggantian). Seperti terdapat pada surat Al-Baqarah: 259

وانظر إلى العظام كيف نُنْشِزُهَا ثم نكسوها لحما

Huruf  zay  (ز) pada kalimat ننشزها  dalam ayat di atas, oleh qiraat yang lain ada yang menggantinya dengan huruf ra’ (ر), sehingga dibaca  ننشرها .

 d    Perbedaan dalam bentuk Taqdim (mendahulukan) dan Ta’khir (menta’khirkan). Seperti terdapat pada surat al-Taubah ayat 111,

يقـتلون في سبيل الله فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ

Kalimat yaqtuluna pada ayat di atas dibaca dengan mendahulukannya daripada kalimat yuqtaluna. Sedangkan pada qiraat yang lain ada yang membaca sebaliknya, yakni mendahulukan kalimat yuqtaluna daripada yaqtuluna. Atau dengan kata lain, kalimat yaqtuluna dita’khirkan.

 e     Perbedaan dalam hal I’rab. Seperti terdapat pada surat al-Maidah ayat 6

فاغسلوا وجوهكم و أيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤوسكم و أرجلكم إلى الكعبين

Kalimat  öNà6n=ã_ö‘r& pada ayat di atas, dalam qiraat yang lain dibaca أَرْجُلِكُمْ (dengan mengkasrahkan huruf lam). Hal ini terjadi karena kalimat tersebut di’athafkan kepada lafal ru’usikum (majrur bil-ba’). Sedangkan kalau dibaca arjulakum berarti di’athafkan ke lafal wujuhakum (maf’ulbih, manshub bil-fathah)

 f      Perbedaan dalam bentuk naqish wa ziyadah (Pengurangan dan Penambahan). Seperti terdapat pada  surat Ali Imran ayat 132,

و سارعوا إلى مغفرة من ربكم و جنة عرضها السمــوات و الأرض 

Kalimat وَسَارِعُوْا  pada ayat di atas dibaca dengan menambahkan huruf waw. Sedangkan pada qiraat yang lain dibaca dengan mengurangi huruf waw, jadi dibaca سَارِعُوْا  .

 g    Perbedaan dalam bentu lahjah (dialek). Seperti  bacaan Imalah, Tarqiq, Tafkhim, Izhar,Idgham,  Saktah, dll.

    

C. Syarat-syarat Qiraat Mu’tabarah

1.  Sesuai dengan Rasmul Mushaf/Rasm Usmaniy.

2.  Sesuai dengan kaedah bahasa Arab.

3.  Sanadnya Mutawatir

 

D. Pengaruh Perbedaan Qiraan terhadap hasil Istinbath Hukum

Perbedaan Qiraat yang berkaitan dengan substansi lafaz atau kalimat kadangkala menyebabkan terjadinya perbedaan makna dan kadangkala juga tidak. Karena itu, perbedaan qiraat adakalanya berpengaruh terhadap hasil istinbath hukum dan adakalanya juga tidak berpengaruh. Tentang kedua hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)  Perbedaan Qiraat yang berpengaruh terhadap hasil istinbath hukum:

Contoh 1: Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah/2: 222,

و يسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذى تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين (البقرة: 222)

(Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah: haidh itu adalah suatu kotorang. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka sampai mereka suci. Apabila mereka telaah  suci, maka campurilah mereka sebagaimana Allah perintahkan kepadamu.  Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.)

Perbedaan qiraat dalam ayat ini terjadi pada kalimat حتى يطهرن .  Dalam hal ini sebagian dari Imam-imam Qiraat, seperti Hamzah, Al-Kisa’i, dan ‘Ashim riwayat Syu’bah, membaca kalimat tersebut dengan  Hatta yaththahharna. Sedangkan sebagian imam-imam qiraat lainnya, seperti Ibnu Katsir, Nafi’, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Amir, dan ‘Ashim riwayat Hafsh membaca kalimat tersebut dengan Hatta Yathhurna. Perbedaan qiraat seperti ini berakibat pada perbedaan makna (hasil isthinbath hukum) yang dikeluarkannya.

Jika dibaca  Hatta Yaththahharna, maka artinya, sampai mereka (wanita yang haidh) itu suci dari haidh dan mensucikan dirinya dengan mandi junub. Maksudnya, sorang  isteri (wanita) yang  sedang haidh, baru boleh dicampuri apabila haidhnya sudah berhenti (suci dari haidh) dan mensucikan dirinya dengan mandi junub. Sebelum mandi junub, belum boleh dicampuri.

Sebaliknya, jika dibaca Hatta Yathhurna, maka artinya, sampai mereka itu suci dari haidh (tanpa harus mandi junub lebih dahulu). Maksudnya, apabila wanita tersebut sudah berhenti haidhnya (suci dari haidh) boleh langsung dicampuri oleh suaminya, tanpa harus mandi junub lebih dahulu.

Contoh 2: Firman Allah dalam Surat An-Nisa/4: 43,

وإن كنتم مرضى أو على سفر أو جاء أحد منكم من الغائط أو لمستم النساء فلم تجدوا ماء فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم إن الله كان عفوا غفورا (النساء: 42)

(Dan jika kamu sakitatau sedang dalam perjalanan atau datang dari tempat buang air atau kamu bersentuhan dengan perempuan, kemudian kamu tidak menemukan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang suci, sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun)

Penggalan ayat yang digarisbawahi di atas berbicara tentang batalnya wudhu’ yang disebabkan bersentuhnya  laki-laki dengan perempuan.

Perbedaan qiraat yang terjadi pada kalimat dalam ayat ini adalah sebagai berikut:

Imam Ibnu Katsir, Nafi’, ‘Ashim, Abu ‘Amr dan Ibnu ‘Amir membaca penggalan ayat tersebut dengan memanjangkan huruf lam (لاَمَسْتُمُ النِّساءَ), sedangkan Imam Hamzah dan al-Kisa’i membaca dengan memendekkan huruf lam  (لَمَسْتُمُ النِّسَآءَ).

Menurut madzhab Hanafi dan Maliki, bersentuhan biasa antara laki-laki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’. Karena dengan berpegang pada qiraat لامستم (memanjangkan lam), yang mengandung arti adanya unsur kesengajaan untuk saling bersentuhan, dalam hal ini adalah hubungan suami istri (jima’), maka bersentuhan biasa tidak membatalkan wudhu’.

Sedangkan Imam asy-Syafi’i berpendapat, bahwa bersentuhan biasa dapat membatalkan wudhu’. Karena dengan berpegang pada qiraat لَمَسْتُمْ (memendekkan lam), berarti persentuhan dilakukan oleh salah satu pihak, tanpa harus ada unsur kesengajaan untuk saling bersentuhan yang mengandung arti jima’.  Dalam hal ini terlihat, bahwa perbedaan qiraat dapat mengakibatkan perbedaan hasil istinbath hukum.

 

2)  Perbedaan Qiraat yang Tidak Mengakibatkan Perbedaan Hasil Istinbath Hukum.

Contoh, firman Allah:

و على الذين يطيقونه فديةٌ طعامُ مِسْكين (البقرة: 184)

dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin.

Perbedaan qiraat terjadi pada lafal yang digarisbawahi dalam ayat di atas. Imam-imam Ibnu Katsir, ‘Ashim, Abu ‘Amr, Hamzah dan al-Kisa’i membaca sebagaimana tulusan di atas. Sedangkan Imam Nafi’ dan Ibnu ‘Amir membaca  فِدْ يَةُ طَعَامِ مَسَاكِيْنَ. Walaupun perbedaan dua wajah qiraat ini sangat menonjol, yakni bentuk mufrad pada wajah pertama dan bentuk jama’ pada wajah kedua, namun pengertiannya tidak berbeda.

Jika dibaca dengan wajah pertama, maka mengandung arti, bahwa orang miskin yang harus diberi makan jumlahnya banyak. Karena orang yang tidak berpuasa (الذين يطيقونه) diungkapkan dalam bentuk jama’. Artinya, jika setiap orang yang tidak berpuasa memberi makan satu orang miskin, maka apabila banyak orang yangt harus membayar fidyah, si penerima fidyah pun  jumlahnya juga banyak.

 

E.  Kegunaan mempelajari Qiraat Alquran

Qiraat Alquran adalah pengetahuan praktis yang hanya dapat diperoleh dengan mempelajarinya secara langsung dari guru atau imam qiraat yang kompeten. Karena itu ia tidak bisa hanya dipelajari melalui buku-buku bacaan, atau membacanya sendiri secara langsung dari mushaf Alquran, tanpa di bawah bimbingan seorang guru. Dengan demikian, setiap muslim yang membaca Alquran dituntut untuk mengetahui mata rantai qiraat Alquran yang dipraktekkannya sampai kepada Rasulullah. Atau paling tidak ia harus mengetahui imam qiraat yang meriwayatkan dan menukilnya dari sumber terpercaya, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara mutawatir, bahwa qiraat tersebut benar-benar bersumber dari Rasulullah Saw.

Dalam hal ini, hampir seluruh umat Islam Indonesia, bahkan seluruh dunia saat ini mempraktekkan Qiraat Alquran Imam ‘Ashim yang diriwayatkan oleh Imam Hafsh. Dengan demikian, salah satu kegunaan mempelajari Ilmu Qiraat yang pertama adalah dapat mempertegas Qiraat yang kita praktekkan sebagai qiraat yang benar dan bersumber dari Rasulullah.  

Kedua, dengan mengetahui adanya qiraat dari imam-imam lain yang juga bernilai mutawatir,  kita dapat menyadari bahwa qiraat yang kita praktekkan bukanlah satu-satunya qiraat yang sah atau mu’tabarah.

Ketiga, dengan pengetahuan tentang adanya perbedaan qiraat yang berakibat pada perbedaan hasil istinbath hukum, maka kita dapat berlapang dada menerima perbedaan yang ada.

Keempat, bagi orang yang ingin memahami makna Alquran secara luas dan mendalam, pengetahuan tentang qiraat dapat membantu mereka menemukan makna-makna Alquran secara lebih luas lagi.   

 

 

Referensi:

الدكتور صبحى الصالح, مباحث فى علوم القرآن, دار العلم للملايين, بيروت, ط. 17, 1988

Dr. Shubhi ash-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Alquran (Penterjemah Tim Pustaka Firdaus), Pustaka Firdaus, Jakarta, Cet. IV, 1993

الدكتور مناع خليل القطان, مبلحث فى علوم القرآن, منشورة العصر الحديثة, رياض, 1973

Dr. Manna’ Khalil al-Qaththan, Study Ilmu-ilmu Quran (Penterjemah Drs. Mudzkir AS.), Litera Antar Nusa, Bogor, Cet. I, 1992

جلال الدين عبد الرحمن السيوطى, الإتقان فى علوم القرآن, مصطفى البابى الحلبى, مصر, 1951

محمد عبد العظيم الزرقانى, مناهل العرفان فى علوم القرآن, دار الفكر, بيروت, لبنان, 1988

الدكتور محمد حسين الذهبى, التفســـير والمفســرون, دار الكتب الحديثة, 1976

Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqie, Ilmu-ilmuAlquran, Bulan Bintang, Jakarta.         

———-, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1980

Rif’at Syauqi Nawawi dan M. Ali Hasan, Pengantar lmu Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1985

Dr. Fuad bin Abdurrahman ar-Rumi, دراسات فى علوم القرآن (Ulumul-Quran: Studi Kompleksitas Alquran), Titian Ilahi, Yogyakarta, 1997

Departemen Agama RI, Muqaddimah Alquran dan Tafsirnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci, Jakarta

بدر الدين محمد بن عبد الله الزركاشى, البرهان فى علوم القرآن, عيسى البابى الحلبى و شركاه, د.س

Ahmad Von Denffer, Ulumul Quran: An Introduction to The Sciences of The Qur’an (Ilmu-ilmu Alquran: Pengantar dasar), Terj. Ahmad Nashir Budiman, CV Rajawali, Jakarta, 1988

محمد بن لطفى السبــاق, لمحات فى علوم القرآن واتجاهات التفســير, المكتبة الاســلامى, بيروت, ط.3, 1990

Dr. Hasanuddin AF. Anatomi Alquran: Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum dalam Alquran, Rajawali Press, Jakarta, 1995

Prof. Dr. Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, UI-Press, Jakarta, 1986

H. Ahmad Fathoni, Lq., Kaedah Qiraat Tujuh, Institut Studi Ilmu Alquran (ISIQ), Jakarta, 1992

———-, “QIRAAT TUJUH ALQURAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN RASAM USMANY”, dalam          Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

M. Qureish Shihab, Membumikan Alquran, Mizan, Bandung, 1992

———-, Mukjizat Alquran, Mizan, Bandung, 1997

M. Mutawally asy-Sya’rawi,  معجــزة القـــرآن (Mukjizat Alquran), Risalah, Bandung, 1984

Prof. K.H. Busthami Abdul Ghani, “Alquran sebagai Mukjizat dan Hidayat” dalam Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

Drs. H. Khotibul Umam, “Kemukjizatan alquran dari segi Uslub dan Isi”, dalam Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Alquran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta, 1986

Sayyid Ahmad Saqar (ed.), اعجاز القـرآن  للباقـــلانى,  دار المعارف, القاهــرة, دس.

Dr. Hamdani Anwar,  Pengantar Ilmu Tafsir (bagian Ulumul Quran), Fikahati Aneska, Jakarta, 1995

Drs. Ramli Abdul Wahid,  UlumulQuran, Rajawali, Jakarta, 1994

M. Ali ash-Shabuni, التبيــان فى علــوم  القـرآن (Pengantar Studi Alquran), PT. Alma’arif, Bandung, 1987

Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, Al-Haramain, Jeddah, t.t.

Dr. Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Alquran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998

Al-Khudhary, Syeikh Muhammad, Tarikh at-Tasyri’ al-Islamy, Darul-Fikr, Beirut, 1981

 



* Kenyataan historis ini dapat menepis anggapan sebagian orientalis, seperti Ignaze Goldziher, yang mengatakan bahwa perbedaan qiraat itu disebabkan tulisan Alquran dengan Rasam Usmani  yang dalam bentuk penulisannya tidak menggunakan titik dan syakal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: